Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kian mengkhawatirkan setelah memasuki hari kelima. Berdasarkan pantauan redaksi, kobaran api tidak hanya menghanguskan lahan gambut yang kering, tetapi juga mulai mendekati dan mengancam keberadaan tiang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di wilayah tersebut.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur kini meningkatkan status kewaspadaan. Langkah antisipasi diperketat menyusul posisi api yang dilaporkan sudah sangat dekat dan berpotensi menyambar salah satu infrastruktur penting penyaluran arus listrik tersebut.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, pihaknya saat ini tengah berupaya keras agar penanganan kebakaran lahan dapat dilakukan secepat mungkin. Dari pengamatan tim redaksi, jika api terus menjalar hingga ke area tiang SUTET, proses pemadaman dipastikan akan semakin sulit sekaligus meningkatkan risiko kerusakan pada jaringan listrik makro.
"Kondisi area terbakar di Eka Bahurui sebenarnya membahayakan bagi tiang SUTET. Jadi, kalau tidak ditangani secara komprehensif, nanti akan semakin sulit karena di lokasi ada tiang SUTET," ujar Multazam pada Kamis (09/07/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun, karhutla di Desa Eka Bahurui pertama kali terdeteksi melalui patroli udara pada Jumat (03/07/2026) lalu sekitar pukul 13.36 WIB. Sejak titik api ditemukan, tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur telah dikerahkan dan terus berjibaku memadamkan api di lapangan.
Namun, upaya pemadaman lewat jalur darat menghadapi kendala besar. Medan gambut yang sulit ditembus, akses transportasi menuju lokasi yang sangat terbatas, serta jauhnya sumber air membuat tim darat belum mampu menghentikan total amukan si jago merah. Menyikapi situasi kritis ini, BPBD Kotim telah mengajukan bantuan helikopter pengebom air (water bombing) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Permintaan itu langsung direspons dengan pengerahan armada udara untuk mempercepat pengendalian kebakaran pada Rabu kemarin," kata Multazam menjelaskan kronologi penanganan.
Menurut penuturannya, saat ini terdapat dua unit helikopter water bombing milik BNPB yang beroperasi penuh di wilayah Kotim. Satu unit helikopter difokuskan untuk memadamkan api di Desa Eka Bahurui, sedangkan satu unit lainnya diterjunkan ke wilayah perbatasan Desa Soren dan Desa Camba di Kecamatan Kota Besi yang juga dilaporkan dilanda kebakaran serupa.
"Posisi saya sekarang di Desa Eka Bahurui. Jadi ada dua unit helikopter yang diterjunkan oleh BNPB. Yang pertama sasarannya Desa Eka Bahurui yang sudah hampir lima hari belum padam. Kemudian yang kedua di perbatasan Desa Soren dengan Camba," jelas Multazam saat memantau langsung situasi di lapangan.
BPBD Kotim sangat berharap dukungan operasi pemadaman dari udara ini mampu menekan laju penyebaran api secara signifikan, terutama di bawah lapisan lahan gambut yang terkenal sangat sulit dipadamkan total. "Prioritas utama saat ini adalah mencegah api merambat hingga ke tiang SUTET agar tidak memicu gangguan yang lebih luas terhadap infrastruktur kelistrikan di wilayah Kotawaringin Timur," pungkasnya.