Asap tebal dilaporkan masih menyelimuti langit Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Dari pantauan redaksi, tim gabungan yang terdiri dari ratusan personel lintas instansi kini masih terus berjibaku di lapangan demi menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah berlangsung sejak awal Juli.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, kebakaran yang dipicu sejak 2 Juli 2026 ini tercatat sebagai karhutla terluas di Kabupaten Pulang Pisau sepanjang tahun ini. Kobaran api yang membakar lahan gambut sedalam beberapa meter membuat proses pemadaman berjalan lambat dan berlarut-larut.
"Rabu kemarin api kembali menyala dan tim gabungan kembali melakukan pemadaman di lokasi. Kamis pagi ini kita masih melanjutkan pemadaman," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pulang Pisau, Herman Wibowo, saat memberikan keterangan pada Kamis (09/07).
Menurut pengamatan tim redaksi, karakteristik khas dari lahan gambut menjadi batu sandungan terbesar bagi para petugas di lapangan. Walau kobaran api di permukaan tampak sudah berhasil dikendalikan, bara api tersembunyi yang mengendap di bawah tanah sewaktu-waktu dapat kembali tersulut akibat embusan angin kencang dan cuaca ekstrem.
"Kawasan lain tetap harus dipantau agar tidak muncul titik asap maupun api yang bisa memperluas kebakaran," kata Herman menekankan pentingnya patroli berkala di area rawan.
Menurut catatan resmi BPBD, sepanjang periode 1 Januari hingga 6 Juli 2026, telah terdeteksi sebanyak 50 titik panas di Kabupaten Pulang Pisau dengan akumulasi luas kerusakan mencapai 46,82 hektare. Ironisnya, sekitar 31,5 hektare dari total luasan tersebut terpusat di Desa Tumbang Nusa.
Kerja keras tim gabungan yang melibatkan BPBD, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, hingga TNI-Polri ini juga terbentur hambatan geografis. Vegetasi semak belukar yang begitu rapat, minimnya pasokan sumber air di sekitar lokasi, serta suhu udara yang menyengat membuat situasi kian pelik.
"Semoga segera turun hujan di wilayah Tumbang Nusa sehingga dapat membantu proses pemadaman karhutla," tutur Herman penuh harap.
Guna mengantisipasi situasi yang memburuk, pihak berwenang kini dilaporkan mulai meningkatkan status kesiapsiagaan di delapan kecamatan lain yang juga masuk dalam peta rawan karhutla. Pemerintah daerah turut mengimbau kelompok Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan masyarakat umum untuk memperketat pengawasan lingkungan.