Dugaan masuknya pengaruh LGBT ke lingkungan sekolah kini menjadi perhatian serius di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pemerintah daerah setempat menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini melalui penguatan edukasi, pengawasan ketat, serta keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Isu ini mencuat setelah adanya laporan yang menyebutkan bahwa dugaan perilaku LGBT mulai menyasar kalangan pelajar, terutama pada jenjang SMP dan SMA. Dari pantauan redaksi, usia remaja dinilai menjadi fase yang paling rentan terhadap berbagai pengaruh negatif, baik dari lingkungan pergaulan maupun paparan media sosial.
Bupati Kotawaringin Barat, Nurhidayah, menyampaikan keprihatinannya secara langsung saat menghadiri peluncuran Kartu Kobar Cerdas. Menurut amatan tim redaksi, situasi ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi tumbuh kembang generasi muda di wilayah tersebut.
"Peran orang tua dan kita semua perlu kerja sama dan kolaborasi dalam menyikapi situasi ini karena saya terus terang prihatin melihat kondisi yang ada. Ini perlu kekompakan dan kebersamaan kita semua. Saya juga mendapat laporan, terutama di beberapa Kecamatan, dugaan LGBT sudah mulai masuk ke lingkungan sekolah. Ini perlu menjadi perhatian para pendidik, khususnya di tingkat SMP dan SMA yang sangat rentan," kata Nurhidayah.
Nurhidayah menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak sekolah semata. Berdasarkan penjelasannya, orang tua, tenaga pendidik, aparat penegak hukum, unsur keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan harus berkolaborasi erat untuk memberikan pendampingan intensif kepada anak-anak.
Sebagai langkah konkret, ia mendorong pihak sekolah untuk memperkuat pendidikan karakter serta memperbanyak kegiatan ekstrakurikuler yang positif. Langkah ini diharapkan dapat memberikan wadah bagi para peserta didik untuk mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas mereka ke arah yang lebih baik.
Selain lingkungan sekolah, derasnya arus informasi di media sosial juga menjadi sorotan tajam. Nurhidayah menilai dunia digital yang tanpa sekat membuat anak-anak membutuhkan pendampingan yang lebih intensif dari pihak keluarga.
Menurutnya, komunikasi yang interaktif dan terbuka antara orang tua dan anak menjadi salah satu pilar utama untuk mencegah remaja terpapar pengaruh buruk. "Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat juga berharap seluruh elemen masyarakat ikut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan kondusif bagi generasi muda," tambahnya.
Di sisi lain, menyikapi fenomena ini, Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat, Hardino, menjelaskan bahwa pihaknya tidak mengantongi data khusus mengenai jumlah pelaku LGBT. Hal ini disebabkan karena orientasi seksual bukan merupakan kategori penyakit yang dicatat dalam sistem surveilans kesehatan resmi.
Menurut Hardino, informasi terkait orientasi atau perilaku seksual tertentu biasanya hanya muncul sebagai bagian dari asesmen faktor risiko ketika petugas medis melakukan skrining atau pelacakan kontak penyakit menular, sehingga tidak dihimpun sebagai data kasus mandiri.
"Karena itu, Dinas Kesehatan tidak dapat menyampaikan jumlah maupun perkiraan kasus LGBT di Kabupaten Kotawaringin Barat. Pendataan yang dilakukan berfokus pada penyakit dan faktor risiko kesehatan, bukan pada orientasi seksual seseorang," ujar Hardino pada Rabu (8/7/2026).
Pemerintah daerah menyimpulkan bahwa penguatan peran keluarga, pembinaan karakter di sekolah, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama untuk melindungi para pelajar dari berbagai persoalan sosial yang berpotensi merusak masa depan mereka.