Di tengah kepungan modernitas yang kerap mengikis ingatan masa lalu, masyarakat RW 05 Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, kembali menegaskan ikatan mereka dengan tanah leluhur. Langkah ini mendapat apresiasi mendalam dari Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang memandang pelaksanaan Bersih Desa bukan sekadar seremoni musiman, melainkan sebuah ruang sakral yang mampu merawat denyut kebudayaan sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pengamatan di lapangan, apresiasi tersebut disampaikan sang Wali Kota saat menghadiri rangkaian Selamatan Bersih Desa yang dipusatkan di kawasan bersejarah Candi Badut. Dalam khotbah sosialnya, Wahyu Hidayat mengungkapkan bahwa ritus Bersih Desa pada hakikatnya adalah manifestasi dari rasa syukur yang paling purba dari manusia atas segala karunia yang melimpah dari Sang Pencipta.
"Hakikatnya Bersih Desa ini adalah wujud rasa syukur yang dilakukan oleh masyarakat Karangbesuki. Rasa syukur atas rahmat yang selama ini diberikan Allah SWT, baik berupa kesejahteraan, kesehatan maupun kesuksesan," jelas Wahyu Hidayat dengan nada takzim, mengingatkan bahwa manusia sering kali lupa berterima kasih pada kehidupan.
Menurut Wali Kota Malang, tradisi tahunan ini menjadi sebuah monumen pengingat yang hidup, sebuah cermin bagi masyarakat untuk terus memelihara rasa syukur demi menjemput keberkahan yang lebih sunyi namun mendalam di masa depan. "Wujud syukur ini perlu kita lakukan agar ke depan perjalanan kehidupan menjadi lebih baik, karena orang yang bersyukur akan mendapatkan berkah dan rida dari Allah SWT," katanya.
Pucuk pimpinan Pemerintah Kota Malang itu juga mengagumi ketekunan panitia dalam merajut rangkaian acara, mulai dari pendar cahaya Kampung Obor, kemeriahan kirab budaya, hingga keheningan doa dalam pengajian penutup. Menurut beliau, ini adalah pengejawantahan dari visi bersama Wakil Wali Kota, yakni "Ngalam Asik dan Ngalam Laris". "Kenapa Ngalam Laris? Karena tadi disampaikan ketua pelaksana, UMKM-nya laris manis. Ini tentu menjadi multiplier effect yang dirasakan masyarakat Kelurahan Karangbesuki," tuturnya.
Dalam perspektif yang lebih filosofis, pelestarian tradisi lokal dinilai bukan sekadar kalender wisata, melainkan sebuah benteng pedagogis bagi generasi muda agar tidak asing di tanahnya sendiri. "Wujud syukur ini dituangkan dalam rangkaian kegiatan yang menjadi uri-uri kebudayaan. Inilah yang menjadi pembelajaran bagi anak-anak muda agar memahami budaya yang diwariskan oleh para leluhur," ungkapnya.
Wali Kota Malang menekankan eksistensi generasi muda untuk memahami bahwa setiap ritus memiliki akar sejarah yang kokoh. "Kita memberikan pemahaman kepada anak-anak muda bahwa kita hidup ini tidak tiba-tiba seperti ini. Ada sejarah yang akhirnya membentuk kegiatan ini menjadi kearifan lokal yang kita rayakan pada hari ini," beber Wahyu Hidayat memecah kesunyian sore.
Berdasarkan letak geografisnya, keberadaan Candi Badut dirasa semakin meneguhkan spiritualitas Bersih Desa ini karena adanya jalinan sejarah yang intim dengan Kelurahan Karangbesuki. "Hal ini juga sangat berbeda karena kita berada di sekitar halaman Candi Badut, yang memiliki keterkaitan erat dengan Kelurahan Karangbesuki. Itulah sebabnya saya sangat menghormati dan mengapresiasi kegiatan sore hari ini," lanjutnya.
Beliau juga merefleksikan makna Kampung Obor yang menyalakan api di kegelapan malam. "Ada hikmah bahwa obor ini memberikan cahaya yang menerangi kita semua, memberikan jalan kepada kita. Ini memiliki arti yang sangat baik," ujarnya, melihat obor sebagai simbol penunjuk arah di tengah ketidakpastian zaman.
Tidak kalah penting, arak-arakan gunungan jajanan pasar dinilai memiliki dimensi edukasi yang melampaui wujud fisiknya. "Jangan dilihat dari jajanannya, tetapi lihat hikmahnya. Gunungan ini memiliki arti dan memberikan pelajaran bagi anak-anak muda," ucapnya retoris.
Menutup pidatonya, Wali Kota mengajak segenap warga untuk terus merawat api gotong royong dan kebersamaan sebagai modal utama membangun peradaban di Kota Malang. "Pemerintah Kota Malang akan terus mendorong agar pembangunan berjalan seiring dengan penguatan kehidupan sosial. Saya mengajak seluruh warga Karangbesuki dan masyarakat Kota Malang untuk terus memelihara kerukunan, memperkuat gotong royong, dan menjadikan setiap ruang kehidupan sebagai kesempatan untuk berkolaborasi. Insyaallah, dengan kebersamaan yang terus terjaga, kita akan mampu mewujudkan Kota Malang yang semakin nyaman, maju, dan mbois berkelas," pungkasnya.