Di bawah langit Klojen yang menyimpan jejak-jejak sunyi, Kota Malang mendapati dirinya memikul sebuah tanggung jawab baru. Kota ini dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah), sebuah inisiasi yang lahir dari rahim Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Kegiatan yang digelar di Alun-alun Merdeka Kota Malang pada Jumat lalu itu menggarisbawahi pencarian manusia akan harmoni melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, demi merawat ruang publik dan mengelola limbah yang kerap menjadi residu peradaban.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan penjelasan Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal ZA, gerakan ini merupakan upaya kolektif untuk menghadapi kenyataan lingkungan yang kian ringkih. "Ini sebuah gerakan peduli lingkungan untuk tetap bersih dan sehat, mengurangi timbulan sampah, serta mengelola sampah secara bijak. Lingkungan yang bersih akan menciptakan masyarakat yang sehat, dan ketika lingkungan menjadi indah, masyarakat pun akan semakin nyaman tinggal di kota maupun kabupaten," tuturnya, seolah mengingatkan bahwa kebersihan adalah bentuk perlawanan terhadap absurditas kerusakan alam.
Menurut Safrizal, Gerakan Indonesia ASRI merupakan ejawantah dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama dari unit terkecil. "Ini adalah arahan Bapak Presiden agar seluruh kementerian, seluruh kepala daerah, dan masyarakat menggerakkan Indonesia ASRI melalui berbagai gerakan positif, mulai dari pengelolaan sampah di tingkat RT dan RW hingga membudayakan kepedulian terhadap lingkungan," jelasnya menekankan pentingnya gotong royong sebagai penolak keputusasaan sosial.
Di sisi lain, keindahan kota tak sekadar urusan sampah yang tersapu, melainkan tentang ruang visual yang merdeka dari polusi estetika. Safrizal mengatakan bahwa pemerintah daerah juga didorong melakukan penataan reklame, baliho, dan spanduk yang kerap mengaburkan keasrian kota. "Kementerian Dalam Negeri bersama Kementerian Lingkungan Hidup akan terus memonitor pelaksanaan gerakan ini dan menilai efektivitas implementasi arahan Bapak Presiden di seluruh daerah," pungkasnya menatap masa depan yang penuh pengawasan.
Menerima takdir sebagai tuan rumah, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan tersebut. Bagi beliau, mandat ini bukanlah beban kosong, melainkan sebuah konfirmasi atas jalan panjang yang telah ditempuh kota ini dalam merawat eksistensinya. Menurut Wahyu, penunjukan ini erat kaitannya dengan keberhasilan Kota Malang meraih penghargaan Adipura Kencana, sebuah simbol tertinggi bagi daerah yang berjuang menjaga kemurnian lingkungannya.
"Pak Dirjen juga menyampaikan bahwa salah satu alasan Kota Malang menjadi tuan rumah karena berbagai keberhasilan yang telah dicapai, salah satunya penghargaan Adipura Kencana kategori Indonesia Bersih," ungkap Wahyu dengan nada penuh kebanggaan yang terukur. Beliau menjelaskan bahwa kesadaran akan lingkungan di Kota Malang telah mengakar menjadi sebuah kebiasaan harian masyarakat, jauh sebelum seruan ini digaungkan.
Berdasarkan penuturan Wahyu, gerakan moral ini telah berjalan secara organis dari tingkat terkecil seperti RT, RW, sekolah, hingga wilayah perkantoran melalui aksi kebersihan yang rutin. "Setiap hari-hari tertentu, termasuk setiap Jumat, kami melaksanakan senam bersama kemudian dilanjutkan kegiatan bersih-bersih di lingkungan masing-masing. Jadi gerakan ini sebenarnya sudah menjadi budaya di Kota Malang," terangnya, menggambarkan rutinitas yang memberi makna pada kedisplinan komunal.
Namun, penataan ruang publik sering kali berbenturan dengan nasib manusia-manusia kecil di dalamnya. Mengantisipasi hal itu, Pemkot Malang memilih jalan yang humanis dalam menata pedagang kaki lima (PKL). Menurut Wahyu, setiap kebijakan penataan selalu dibarengi dengan penyediaan ruang hidup yang baru. "Kalau kami melakukan penataan PKL, pasti sudah kami siapkan alternatif lokasinya. Seperti di Pasar Gadang, Kebalen, termasuk nanti kawasan Soekarno-Hatta dan Kauman-Kedungkandang akan kami tata secara bertahap," jelasnya menekankan bahwa keindahan kota tidak boleh mengorbankan martabat manusia.
Pada akhirnya, Gerakan Indonesia ASRI ini berkelindan erat dengan takdir program lokal yang telah lama dihidupi oleh Kota Malang, seperti Ngalam Rijik, Ngalam Seger, dan Ngalam Laris. "Gerakan Indonesia ASRI ini selaras dengan program yang selama ini kita jalankan. Karena itu, kami ingin budaya peduli lingkungan ini terus menjadi kebiasaan masyarakat sehingga Kota Malang semakin bersih, sehat, indah, dan nyaman," pungkas Wahyu menutup pembicaraan tentang pencarian kenyamanan yang abadi.