Di tengah keriuhan zaman yang bergerak cepat menuju kelupaan, ingatan masa lalu menjadi benteng terakhir yang menjaga kemanusiaan kita. Berdasarkan komitmen nyata untuk merawat ingatan kolektif tersebut, Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) terus berupaya memperkuat budaya literasi masyarakat dengan menghadirkan koleksi bacaan sejarah lokal. Langkah ini menjadi cerminan bahwa mengenali akar sejarah adalah sebuah keniscayaan untuk menghadapi masa depan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Salah satu karya yang kini menjadi perhatian dan menjelma sebagai koleksi unggulan di Perpustakaan Daerah Kabupaten Bekasi adalah buku berjudul "Sejarah Bekasi: Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini". Buku yang lahir dari ketekunan sejarawan Endra Kusnawan ini diharapkan mampu menjadi lentera bagi masyarakat, terutama generasi muda, yang kerap terasing dari asal-usul tanah tempat mereka berpijak.
Menurut penjelasan Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bekasi, Agung Mulya, kehadiran buku ini membawa sebuah harapan besar akan pemahaman yang lebih komprehensif. "Melalui buku karya Endra Kusnawan ini, masyarakat dapat lebih mengenal, memahami, dan mengetahui perjalanan sejarah serta perkembangan Kabupaten Bekasi hingga menjadi daerah yang maju seperti saat ini," ujar Agung pada Jumat, 3 Juli 2026.
Berdasarkan pandangan Agung Mulya, keberadaan literatur mengenai sejarah lokal memiliki peran yang teramat krusial dalam memperkokoh identitas daerah sekaligus mendongkrak indeks literasi masyarakat. Keberadaan buku tidak boleh sekadar menjadi pajangan mati; oleh karena itu, selain menyediakan ribuan koleksi di berbagai bidang, Disarpus juga terus menggerakkan layanan perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah di sejumlah kecamatan guna memantik kembali api minat baca para pelajar.
Bagi Agung, membaca sejarah bukan hanya perkara menumpuk pengetahuan di dalam kepala, melainkan sebuah laku batin untuk membangun rasa memiliki terhadap daerah. "Kami mengapresiasi Bang Endra Kusnawan yang telah menyusun perjalanan panjang sejarah Bekasi secara rinci sehingga kini dapat menjadi referensi bagi masyarakat di Perpustakaan Daerah," tambahnya, mengagumi dedikasi yang melawan kesunyian pengarsipan.
Sementara itu, sang penulis, Endra Kusnawan, mengungkapkan bahwa mahakarya yang hadir di tahun 2026 ini merupakan edisi ketiga yang telah mengalami penyempurnaan mendalam, setelah edisi perdana pada 2016 dan revisi pada 2019. Buku ini telah diperbarui dengan pelbagai data dan materi baru hingga menebal menjadi sekitar 600 halaman, sebuah rangkuman waktu yang padat dan menantang.
Menurut pemaparan Endra, buku ini disusun secara kronologis yang ketat, mengulas bentangan takdir Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi sejak fajar Peradaban Buni, kemegahan Kerajaan Tarumanegara, masa kolonial yang getir, perjuangan kemerdekaan yang berdarah, hingga perkembangan dinamis pemerintahan modern. "Banyak masyarakat asli Bekasi yang belum memahami sejarah daerahnya sendiri karena literatur mengenai sejarah Bekasi masih sangat terbatas," tuturnya merefleksikan keprihatinan atas absennya kesadaran sejarah.
Pada edisi teranyar ini, lembaran buku juga memuat dokumentasi otentik perjalanan pemerintahan seluruh kepala daerah Kabupaten Bekasi, lengkap dengan rekam foto para bupati dan wakil bupati dari masa ke masa. Tidak hanya merekam dinamika kekuasaan, buku ini juga menelusuri jejak-jejak fisik yang bisu namun sarat makna, seperti Tugu Bambu Runcing di Warung Bongkok, Kecamatan Cikarang Barat, serta bangunan cagar budaya SDN Simpangan 01 Cikarang Utara.
"Lewat buku ini diharapkan masyarakat tidak hanya mengenal nama suatu tempat, tetapi juga memahami latar belakang sejarahnya," kata Endra memungkasi. Pada akhirnya, melalui buku Sejarah Bekasi ini, Disarpus Kabupaten Bekasi meletakkan harapan agar masyarakat tidak hanya sekadar hidup, namun juga memahami dari mana mereka berasal, guna membangun karakter generasi penerus yang teguh.