Warta Kabayan Warta Kabayan
/home / nasional / Sekolah Gratis Banten: Asa yang...
NASIONAL

Sekolah Gratis Banten: Asa yang Menjaga Mimpi Hafidz Tetap Hidup

Abdoel Hafidz siswa penerima manfaat Program Sekolah Gratis Pemprov Banten di SMK PGRI Pandeglang

Abdoel Hafidz siswa penerima manfaat Program Sekolah Gratis Pemprov Banten di SMK PGRI Pandeglang

Dunia acapkali terasa begitu sunyi dan dingin bagi mereka yang berjalan di atas ketidakpastian. Di sudut Kampung Cilaja, Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, mata Abdoel Hafidz (16) tampak berkaca-kaca. Remaja ini tidak lagi harus menatap hari esok dengan kecemasan akan putus sekolah, setelah namanya tercatat sebagai penerima manfaat program sekolah gratis yang diinisiasi oleh Gubernur Banten Andra Soni dan Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusuma.

Bagi seorang anak yang harus memikul beban hidup teramat dini, pendidikan adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa. Sekitar 80 hari yang lalu, Hafidz kehilangan ibundanya yang wafat setelah berjuang melawan gagal ginjal. Sejak September tahun lalu, ia membagi waktu antara buku pelajaran dan lorong-lorong sunyi rumah sakit, mendampingi sang ibu mulai dari RS Seruni Harfiah Lestari (SHL) Pandeglang hingga dirujuk ke RSUD Banten di Kota Serang akibat penyumbatan pembuluh darah.

Kematian sang ibu meninggalkan sunyi yang mendalam di rumah mereka. Kini, Hafidz tinggal berdua bersama adik laki-lakinya yang baru menginjak kelas I SMP, sementara sang ayah, Yadi Sugianto, harus mengadu nasib sebagai buruh harian lepas di proyek bangunan di Tangerang dan hanya bisa pulang dua minggu sekali. "Saya ingin memeluk gubernur dan mengucapkan terima kasih. Karena sekolah gratis ini, saya tetap bisa sekolah dan ayah saya tidak lagi memikirkan biaya sekolah saya," ujar Hafidz dengan nada lirih pada Kamis (16/7/2026).

Menurut penuturan Hafidz, asa untuk melanjutkan pendidikan hampir saja kandas ketika ia dinyatakan gagal menembus seleksi masuk SMA Negeri 6 Pandeglang melalui jalur domisili. Menghadapi kenyataan bahwa biaya sekolah swasta terlampau tinggi untuk upah seorang buruh bangunan, keputusasaan sempat membayangi keluarganya. Namun, takdir mempertemukannya pada selembar informasi bahwa SMK PGRI Pandeglang telah bermitra dalam Program Sekolah Gratis Pemprov Banten, sebuah kabar baik yang diurus oleh pamannya selagi sang ayah bekerja di perantauan.

Kini, di SMK PGRI Pandeglang, Hafidz dapat melangkah dengan kepala tegak tanpa perlu merisaukan tagihan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) bulanan. Berdasarkan keterangannya, pihak keluarga kini hanya perlu mengusahakan biaya untuk keperluan seragam sekolah. "Program ini sangat membantu keluarga saya. Ayah sekarang bisa lebih fokus bekerja karena tidak lagi memikirkan biaya sekolah saya," ucapnya, sembari mengingat pesan sang ayah untuk senantiasa belajar sungguh-sungguh dan menjaga sang adik.

Kisah perjuangan melawan keterbatasan ini tidak hanya milik Hafidz seorang. Di sekolah yang sama, Muhammad Hasbi Fabiansyah (15), seorang siswa baru pada jurusan Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG), juga merasakan kelegaan serupa. Remaja asal Desa Gunungputeri, Kecamatan Banjar, ini sempat kebingungan setelah tereliminasi dari jalur domisili SMA Negeri 6 Pandeglang, sementara ibunya, Lilis Herlis, hanya mengandalkan penghasilan dari warung jajanan kecil untuk menyambung hidup.

Hasbi baru mengetahui keberadaan program jaminan pendidikan cuma-cuma ini saat melihat spanduk yang terbentang di depan gerbang SMK PGRI Pandeglang ketika hendak mendaftar. "Saya baru tahu waktu mau daftar. Ternyata sekolahnya gratis, cuma bayar seragam," ungkap Hasbi. Baginya, program ini adalah penyelamat dari bayang-bayang kegagalan masa lalu, mengingat kakak kandungnya dahulu terpaksa mengubur mimpi kuliah akibat jeratan kesulitan finansial.

Menurut data dari Pemerintah Provinsi Banten, kisah-kisah penuh haru dari Pandeglang ini merupakan bagian kecil dari dampak masif kebijakan sosial di bidang pendidikan. Pada Tahun Ajaran 2025-2026, tercatat sebanyak 801 sekolah swasta pada jenjang SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) telah terintegrasi dalam Program Sekolah Gratis ini, dengan total penerima manfaat yang terverifikasi mencapai 60.705 siswa.

Kebijakan ini hadir sebagai jembatan kemanusiaan yang menghubungkan jurang pemisah antara kemiskinan dan hak atas pengetahuan. Bagi anak-anak seperti Hafidz dan Hasbi, program sekolah gratis ini bukan sekadar lembaran regulasi atau sekadar angka statistik di atas meja birokrasi, melainkan sebuah uluran tangan yang memastikan mimpi-mimpi mereka tetap hidup dan menyala di tengah badai kehidupan.

// TOPICS
#sekolah_gratis #pemprov_banten #andra_soni #pandeglang #pendidikan_banten #anak_yatim #smk_pgri_pandeglang
Jurnalis Senior - Spesialis Politik & Ekonomi Nasional

Santika Winarsih adalah jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 12 tahun meliput dinamika politik dan ekonomi Indonesia. Keahliannya dalam menganalisis kebijakan pemerintah, isu legislatif, dan tren ekonomi makro menjadikannya rujukan utama bagi pembaca yang haus akan informasi akurat dan mendalam. Telah meliput berbagai peristiwa penting seperti pemilu, sidang kabinet, konferensi ekonomi internasional, dan wawancara eksklusif dengan tokoh-tokoh kunci nasional.