Gelaran tahunan Solo Batik Carnival (SBC) yang telah memasuki pelaksanaan ke-17 kalinya dinilai belum sepenuhnya mampu mendongkrak sektor pariwisata di Kota Solo, Jawa Tengah. Meski menghadirkan ratusan peserta dengan kostum unik, dampak ekonomi terhadap tingkat okupansi hotel dan restoran di kota tersebut dilaporkan masih belum terlihat signifikan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi di lokasi pada Sabtu, 11 Juli 2026 sore, antusiasme masyarakat untuk menyaksikan kirab busana batik ini tidak sebesar pada tahun-tahun sebelumnya. Warga yang menonton pergelaran dari depan Stadion Sriwedari hingga Balai Kota Solo tampak tersebar di beberapa titik tanpa adanya kepadatan penonton yang merata di sepanjang jalur kirab.
Menurut pengamatan tim redaksi, rute karnaval yang melintasi sepanjang Jalan Slamet Riyadi mulai dari kawasan Sriwedari hingga Gladag juga terlihat lengang di beberapa bagian. Padahal, agenda budaya ini diikuti oleh sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, termasuk para penggiat busana baik dari dalam maupun luar Kota Solo.
Acara kirab SBC sendiri baru dimulai sekitar pukul 16.30 WIB. Dalam perhelatan kali ini, Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani turut ambil bagian dan tampil di barisan depan sebagai cucuk lampah dengan mengenakan busana batik bernuansa bunga yang didominasi oleh warna merah.
Tidak hanya dari sisi jumlah penonton yang menyusut, dampak penyelenggaraan SBC terhadap industri perhotelan setempat juga belum menunjukkan lonjakan yang berarti. Pihak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Solo menyatakan bahwa pergerakan tamu hotel pada akhir pekan ini masih dalam kategori normal.
Humas PHRI Kota Solo, Wening Damayanti, menjelaskan bahwa peningkatan tingkat hunian hotel memang kerap terjadi saat akhir pekan, namun hal tersebut belum dapat dikaitkan secara langsung dengan pelaksanaan SBC. "Seperti biasa okupansi rata-rata di akhir pekan memang meningkat," ungkap Wening melalui pesan singkat.
"Tapi belum termonitor tamu yang khusus datang untuk melihat SBC," lanjut Wening menanggapi dampak dari festival busana tahunan tersebut.
Di sisi lain, berdasarkan laporan dari lapangan, sejumlah warga setempat menilai bahwa daya tarik Solo Batik Carnival saat ini sudah mulai berkurang dan tidak lagi memiliki gaung yang sebesar pada masa-masa awal penyelenggaraannya dahulu.