Beberapa menit setelah peluit panjang pertandingan Argentina versus Swiss berbunyi pada Minggu (12/7/2026), sebuah potret unik masuk ke ruang redaksi. Pengirimnya bukanlah sang pelatih Lionel Scaloni atau peramal bola dari Amerika Latin, melainkan Ketua DPC PKB Kabupaten Pinrang, Alimuddin Budung.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan foto tersebut, Alimuddin Budung terlihat duduk bersila dengan mata terpejam dan kedua telapak tangan menengadah. Di hadapan mantan anggota DPRD Pinrang beberapa periode itu, terhidang nasi, telur rebus, ikan, ayam, sayur, dan aneka makanan lain yang lazim disajikan dalam tradisi mabbaca di kalangan masyarakat Bugis-Makassar.
Menurut tradisi Bugis-Makassar, mabbaca merupakan ritual pembacaan doa yang ditujukan kepada seseorang, keluarga, atau untuk hajat tertentu. Makanan yang terhidang dalam prosesi ini bukanlah objek yang disakralkan, melainkan bagian dari jamuan yang kemudian disantap bersama setelah doa selesai dipanjatkan.
Namun, hal yang membuat foto itu menarik justru keterangan yang ditulis sendiri oleh Alimuddin Budung melalui pesan WhatsApp, yakni "Sanrona Argentina". Istilah ini secara harfiah berarti "dukunnya Argentina". Dari pantauan redaksi, kalimat tersebut jelas bernada humor dan merupakan sebuah satire khas Bugis yang memadukan kecintaan pada sepak bola dengan tradisi lokal.
Melalui humor itu, kemenangan Argentina seolah-olah bukan hanya hasil strategi pelatih dan kualitas pemain di lapangan, tetapi juga "dibantu" oleh doa seorang sanro dari Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia, fenomena ini memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat memaknai sepak bola melalui bahasa budaya mereka sendiri.
Dari amatan tim redaksi, stadion boleh saja berada ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia, tetapi ruang keluarga di Pinrang berhasil diubah menjadi arena ekspresi identitas lokal. Sepak bola bagi orang Bugis-Makassar telah menjadi ruang sosial tempat tradisi, doa, canda, dan solidaritas bertemu dalam satu momen yang sama.
Namun, di luar ritual jenaka "Sanrona Argentina" maupun kecerdikan Lionel Scaloni meracik strategi, satu peristiwa di lapangan hijau justru menjadi bahan perdebatan paling panjang. Kartu merah yang diterima oleh pemain Swiss memicu reaksi keras dari para pendukung.
Dalam hitungan detik setelah keputusan tersebut, grup-grup percakapan digital di Sulawesi Selatan langsung berubah menjadi ruang sidang sepak bola. "VAR dan wasit mau menyelamatkan lagi Argentina," tulis seorang warga dalam sebuah grup WhatsApp.
Komentar bernada sindiran lain pun segera menyusul dalam obrolan hangat tersebut. "Hadiah VARgentina," tulis anggota grup lainnya, menunjukkan betapa teknologi VAR kini terus memicu perdebatan sengit tentang kapital simbolik di atas lapangan hijau.