Di tengah takdir kota yang kerap didera kecemasan, persoalan banjir dan runtuhnya infrastruktur jalan kembali menjadi beban eksistensial bagi warga. Keluhan yang begitu menyesakkan dada ini disampaikan langsung oleh masyarakat kepada Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dalam program sapa warga yang khidmat digelar di Masjid Al Hijrah, Kompleks BTN, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi di lokasi, kehadiran Rico Waas yang didampingi sejumlah Pimpinan Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kota Medan bukan sekadar formalitas birokrasi. Beliau hadir untuk menawarkan kepastian di tengah ketidakpastian, menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur jalan dan penanganan badai banjir di wilayah tersebut akan segera dieksekusi dalam waktu dekat.
Kegetiran hidup tersirat jelas dari penuturan Hera Sianturi, seorang warga Kelurahan Besar yang tidak mampu menyembunyikan keprihatinannya atas bencana banjir menahun yang terus menggerogoti kompleks tempat tinggal mereka. Menurut pengamatan tim redaksi, tanggul yang rapuh membuat pemukiman mereka menyerupai kuali yang pasrah menampung luapan air.
"Kami yang masih muda dan kuat saja merasa letih dan lelah menghadapi banjir yang datang berkali-kali ini, apalagi orang tua kami dan para janda di sini," ujar Hera dengan nada perih, seraya mengusulkan pembangunan benteng pembatas yang kokoh demi menghalau luapan air.
Menanggapi jeritan warganya, Rico Waas menyatakan komitmen yang tak tergoyahkan untuk menyelesaikan persoalan banjir kronis tersebut. Menurut beliau, sebuah pembenahan tidak boleh dilakukan dengan setengah hati, karena ketidakpastian hanya akan memperpanjang penderitaan manusia.
"Kalau mau kita kerja, kita kerja jangan tanggung-tanggung. Kalau tanggung-tanggung, ya sampai kapan pun kita gini terus. Saya bilang ke SDABMBK coba benahi dan tolong laporkan ke saya berapa pembiayaannya," tegas Rico Waas, yang seketika membangkitkan harapan dan disambut antusiasme riuh oleh warga setempat.
Berdasarkan analisis geografis yang dipaparkan Rico Waas, kondisi Kompleks BTN saat ini perlahan beralih menyerupai rawa. Dari pantauan redaksi, indikator air pembuangan di sekitar pemukiman dan tempat ibadah tampak menggenang secara konstan, berlumut, hingga memancarkan warna hijau pekat yang kontras dengan kehidupan yang sehat.
Oleh karena itu, selain pembenahan fisik berskala besar yang membutuhkan anggaran bertahap, Rico Waas meminta pihak Kecamatan segera melakukan pendataan elevasi rumah warga sebelum opsi peninggian jalan sekunder dieksekusi. Terkait jalan utama yang rusak akibat genangan, beliau menjelaskan bahwa proses tender telah berjalan dan pengujian beton akan segera dilakukan dari ujung depan hingga ke area masjid.
Kegelapan malam yang mengintai juga menjadi kecemasan tersendiri bagi warga seperti Titi, yang mengeluhkan banyaknya Lampu Penerangan Jalan Umum yang mati atau dicuri, memicu ketakutan akan tindakan kriminalitas seperti begal. Menjawab kekhawatiran itu, Rico Waas langsung menginstruksikan Kepala Dinas Perhubungan untuk segera melakukan perbaikan dan berkoordinasi dengan PLN terkait penggantian tiang listrik.
Tidak hanya perkara fisik lingkungan, urusan administratif yang melelahkan juga menjadi sorotan Sipahutar, warga yang mendambakan kemudahan layanan Adminduk dan ketersediaan lapangan kerja bagi generasi muda di sekitar pabrik Medan Labuhan. Menurut Rico Waas, saat ini pengurusan Kartu Keluarga dan KTP sudah didegradasi ke tingkat Kecamatan demi memotong jarak dan birokrasi yang melelahkan.
Di penghujung pertemuan yang penuh asa tersebut, dari pengamatan tim redaksi, Rico Waas menegaskan bahwa seluruh keluhan ini telah menjadi atensi penting dalam sisa waktu pengabdiannya. Beliau berjanji akan lebih sering turun ke lapangan untuk memastikan peradaban dan kenyamanan di Medan Labuhan dapat pulih kembali.