Hujan yang membasahi bumi Medan malam itu bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan sebuah ujian eksistensial bagi kebersamaan manusia. Di tengah guyuran air yang menderu di sepanjang Jalan Pulau Pinang, Karnaval Budaya Nusantara dalam rangka Rakernas XVIII APEKSI justru melahirkan sebuah potret kepatuhan pada takdir yang dihadapi bersama dengan keteguhan hati.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pernyataan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat menutup Indonesia City Expo 2026 di Ballroom Santika Dyandra Hotel, kekhawatiran sempat membayangi benak kepanitiaan. Seluruh rangkaian acara adat yang sejatinya dirayakan di bawah langit terbuka terancam sepi, namun manusia menolak untuk tunduk pada kecemasan itu.
"Saya sempat berpikir, jangan-jangan karnaval budaya tidak bisa berjalan karena hujan terus turun. Tetapi begitu kami tiba di lokasi, semangat para delegasi luar biasa. Tidak ada satu pun kota yang ingin menyerah," ujar Rico Waas dengan nada penuh takjub, mengenang bagaimana kehendak kolektif mampu melawan dinginnya malam.
Menurut pengamatan tim redaksi di lapangan, tidak ada keputusasaan yang tampak di wajah para peserta. Kegembiraan justru memuncak ketika keputusan untuk menerjang hujan diambil secara bulat. Dari pantauan redaksi, payung-payung dan jas hujan yang basah kuyup menjadi saksi bisu kehangatan persaudaraan yang mengikat Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia.
Bagi Rico Waas, momen ketika para wali kota kembali ke panggung kehormatan dan memilih untuk basah bersama para delegasi adalah sebuah manifestasi dari solidaritas murni. "Semuanya basah kuyup, tetapi tetap bertahan sampai acara selesai. Itu menunjukkan solidaritas, rasa kekeluargaan, dan kehangatan yang dimiliki keluarga besar APEKSI," tuturnya merenungi makna di balik peristiwa tersebut.
Perayaan ini pada akhirnya bertransformasi menjadi sebuah memori kolektif yang tak ternilai bagi Kota Medan, yang kebetulan sedang merayakan Hari Jadi ke-436. Menghadapi takdir kota yang dinamis, kebersamaan di bawah hujan ini dianggap sebagai hadiah termurni yang menegaskan bahwa dalam dinginnya jarak geografis, ada kehangatan solidaritas yang mempersatukan mereka semua.