Sebuah penelitian kolaboratif di bawah Pusat Kolaborasi Riset Arkeologi Sulawesi berhasil mengungkap tabir sejarah panjang mengenai perkembangan teknologi peralatan batu budaya Toalean di Sulawesi Selatan. Berdasarkan hasil kajian terbaru, tradisi prasejarah yang ikonik ini ternyata memiliki akar kesinambungan teknologi yang membentang hingga 40.000 tahun terakhir.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari pantauan redaksi, studi mendalam ini telah dipublikasikan di jurnal arkeologi internasional "Archaeological and Anthropological Science" dengan tajuk "Evolution of stone flaking technology at Leang Panninge (South Sulawesi, Indonesia) from the Late Pleistocene to the Toalean technocomplex". Lokasi ekskavasi di situs prasejarah Leang Panninge, Kabupaten Maros, menjadi kunci penting dalam membuktikan bahwa budaya Toalean berkembang dari tradisi lokal sejak masa Pleistosen Akhir.
"Yang menarik dari penelitian ini adalah adanya kesinambungan teknologi yang sangat panjang. Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong," ujar Suryatman, penulis utama penelitian dari Universitas Hasanuddin, dalam siaran pers yang diterima di Makassar.
Menurut tim peneliti, temuan ini memberikan perspektif baru yang mematahkan asumsi lama mengenai asal-usul budaya Toalean. Berbagai inovasi yang menjadi ciri khas kebudayaan tersebut, termasuk artefak batu yang dikenal sebagai Maros Poin, rupanya dibangun di atas fondasi teknologi lokal yang sudah digunakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan selama puluhan ribu tahun.
Riset berskala besar ini melibatkan kolaborasi lintas institusi, termasuk Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sulawesi Selatan, Bumi Toala Indonesia, NALAR, dan IAAI SULAMPAPUA.
Berdasarkan keterangan Guru Besar Arkeologi Universitas Hasanuddin, Prof Akin Duli, signifikansi Leang Panninge tidak hanya terbatas pada temuan alat batu, melainkan juga pada rekonstruksi sejarah manusia di Sulawesi secara menyeluruh. Keberadaan situs ini melengkapi penemuan kerangka manusia purba Bessé" yang sempat menghebohkan dunia arkeologi beberapa waktu lalu.
"Leang Panninge merupakan salah satu situs paling penting di Indonesia karena menyimpan bukti mengenai manusia dan budayanya sekaligus. Penemuan Bessé" sebelumnya telah membuka jendela baru tentang sejarah populasi manusia di Sulawesi," kata Prof Akin Duli. Ia menambahkan bahwa kedua penelitian ini memperlihatkan betapa pentingnya posisi Sulawesi dalam memahami sejarah manusia di kawasan Wallacea.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa kawasan Wallacea memang kerap menjadi pusat perhatian peneliti internasional. Profesor Adam Brumm dari Griffith University menilai studi ini memberikan kontribusi besar bagi pemahaman evolusi budaya di Kepulauan Asia Tenggara. Menurutnya, adaptasi, eksperimen, dan pengembangan budaya yang panjang selama puluhan ribu tahun membentuk karakteristik unik Toalean.
Sementara itu, perwakilan Pusat Kolaborasi Riset Arkeologi Sulawesi, Budianto Hakim, menekankan bahwa temuan ini harus dilihat dalam bingkai kebudayaan yang lebih luas di kawasan karst Maros-Pangkep. Pada periode yang sama, kawasan tersebut juga dikenal sebagai lokasi seni cadas tertua di dunia.
Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Adhi Agus Oktaviana dari BRIN yang telah lama meneliti lukisan dinding karst Maros-Pangkep. Menurut analisisnya, inovasi teknologi masyarakat prasejarah di Sulawesi Selatan sejak 40.000 tahun lalu tidak sekadar dipicu oleh insting bertahan hidup, melainkan didorong oleh dedikasi teknis untuk memfasilitasi ekspresi artistik dan budaya yang sangat maju pada zamannya.