Nasib malang menimpa Danisa, seorang bocah penyandang disabilitas berusia 13 tahun di Samarinda, Kalimantan Timur. Setelah bertahun-tahun berjuang keras untuk bisa bergerak secara mandiri dengan cara merangkak dan bertumpu pada dinding rumah, kini ia terpaksa harus memulai seluruh proses tersebut dari titik nol akibat mengalami patah tulang pascakejang.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan penuturan ibu kandung Danisa, Siti Khadijah, putrinya tersebut sama sekali tidak sempat mendapatkan imunisasi dasar yang lengkap ketika masih bayi. Faktor kesulitan ekonomi yang menjerat keluarga serta akses menuju fasilitas kesehatan yang terbilang cukup jauh kala itu, menjadi alasan utama mengapa Danisa melewatkan hak imunisasinya.
"Kondisi kami waktu itu susah, fasilitas kesehatan juga jauh, jadi Danisa tidak sempat imunisasi," ujar Siti Khadijah saat ditemui langsung di kediamannya yang terletak di Jalan Poros Samarinda-Bontang, Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara.
Dari pantauan redaksi di lokasi, kondisi kediaman keluarga ini tampak sangat sederhana. Ayah sambung Danisa, Yulifiadi, menceritakan bahwa insiden patah tulang yang dialami anak perempuannya itu terjadi secara mendadak beberapa waktu lalu. Padahal, pada malam sebelum kejadian, sang bocah masih terlihat ceria bermain bersama adik-adiknya sembari menonton video di telepon genggam.
"Paginya istri saya teriak karena Danisa kejang. Saya kira cuma digigit serangga. Waktu mau diangkat, ternyata kakinya sudah patah dan bengkok," kata Yulifiadi menceritakan kepanikan pagi itu.
Menurut Yulifiadi, anak sambungnya tersebut lahir secara prematur dan sejak kecil didiagnosis mengalami keterbatasan fisik yang membuatnya tidak bisa berjalan normal seperti anak-anak seusianya. Kendati demikian, seiring pertumbuhan usianya, Danisa menunjukkan perkembangan positif dengan mampu merangkak dan berpindah tempat secara mandiri.
Akibat dari insiden patah tulang yang baru saja terjadi, seluruh kemajuan fisik yang telah dicapai Danisa sirna seketika. Selain harus menjalani serangkaian pengobatan medis untuk memulihkan struktur tulangnya, bocah malang ini juga harus dilatih kembali dari awal agar bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Tim redaksi mengamati bahwa selain gangguan motorik, Danisa juga kerap kali mengalami serangan kejang mendadak tanpa disertai demam tinggi atau gejala penyakit awal lainnya. Hingga saat ini, pihak keluarga masih diliputi ketidakpastian mengenai hubungan medis antara riwayat kejang tersebut dengan kondisi cacat fisik yang dialaminya.
"Ini masih kami bawa kontrol ke dokter. Jadi masih menunggu penjelasan dari dokter, apa penyebab kondisinya," tutur Yulifiadi yang sehari-hari menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai buruh bangunan demi menopang pengobatan sang anak.
Keterbatasan fisik dan ekonomi juga membuat Danisa belum pernah merasakan bangku pendidikan formal sama sekali. Walau statusnya hanya sebagai ayah sambung, Yulifiadi mengaku telah menyayangi Danisa layaknya anak kandung sendiri, terlebih setelah mengetahui bahwa ayah kandung bocah tersebut telah lama meninggal dunia sejak Danisa masih kecil.