Gelaran Piala Dunia 2026 kini telah resmi memasuki edisi ke-23. Namun, dari pantauan redaksi, ada satu mitos besar atau fakta unik yang belum terpecahkan sepanjang sejarah turnamen sepak bola terbesar di jagat raya ini: belum pernah ada satu pun negara yang berhasil keluar sebagai juara di bawah asuhan pelatih asing.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data historis sejak edisi perdana pada tahun 1930 di Uruguay hingga turnamen 2022 di Qatar, tercatat ada delapan negara yang telah mencicipi gelar juara dunia. Seluruh tim yang berhasil mengangkat trofi bergengsi tersebut selalu diarsiteki oleh juru taktik lokal yang berasal dari negara yang sama dengan tim nasional tersebut.
Uruguay menjadi negara pertama yang menegaskan tren ini ketika menjuarai edisi 1930 bersama Alberto Suppici, disusul gelar kedua mereka pada tahun 1950 di bawah arahan Juan Lopez Fontana. Menurut catatan sejarah, Italia juga mencetak kesuksesan serupa secara beruntun bersama Vittorio Pozzo pada tahun 1934 dan 1938, diikuti oleh Enzo Bearzot pada 1982, serta Marcello Lippi pada 2006.
Sementara itu, Inggris meraih trofi Piala Dunia pertamanya pada tahun 1966 saat ditangani oleh Alf Ramsey. Negara tersukses di ajang ini, Brasil, mengemas lima bintang juara dengan lima pelatih lokal yang berbeda, mulai dari Vicente Feola pada 1958, Aymore Moreira pada 1962, Mario Zagallo pada 1970, Carlos Alberto Parreira pada 1994, hingga Luiz Felipe Scolari pada 2002.
Dari amatan tim redaksi, tren pelatih lokal ini terus berlanjut di era modern sepak bola. Spanyol merengkuh trofi Piala Dunia 2010 berkat racikan taktik Vicente Del Bosque. Jerman pun mencatatkan empat kali juara melalui Sepp Herberger pada 1954, Helmut Schon pada 1974, dan Franz Beckenbauer pada 1990 saat masih bernama Jerman Barat, serta satu trofi dari Joachim Low pada 2014 ketika negara tersebut sudah bersatu. Ketangguhan rekor pelatih lokal ini kembali menjadi sorotan tajam para pencinta sepak bola, termasuk suporter PSM Makassar yang mengaitkannya dengan kegagalan Brasil bersama Carlo Ancelotti.